Call For Papers

Call For Papers

International Conference on Education, Culture and Humanities Selengkapnya »

 

Monthly Archives: August 2018

Ketua STKIP: Budayakan Semangat Juang dan Sikap Displin adalah Kunci Berprestasi

STKIP Santu Paulus Ruteng

STKIP Santu Paulus 2018. Ruteng. Mengawali proses perkuliahan  tahun akademik 2018/2019 Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Santu Paulus Ruteng mengadakan upacara pengibaran bendera Merah Putih di Lapangan MISSIO STKIP Santu Paulus Ruteng.

Membersihkan Lingkungan Dalam Rangka Mengembangkan Pola Hidup Sehat Di Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai

WhatsApp Image 2019-01-04 at 08.07.50

 

 

Persoalan umum yang dihadapi di Kelurahan Wae Belang, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Masyarakat membuang sampah sembarangan di tempat-tempat yang menjadi fasilitas umum (fasum), seperti lapangan, halaman sekolah, rumah sakit, dan pertokoan. Kurangnya kesadaran terhadap kebersihan lingkungan ini terlihat dari menumpuknya sampah di dalam Lapangan Kelurahan yang terletak di Cancar.

PkM: Pelatihan Pengolahan Sampah Menjadi Benda Bernilaiguna Di Desa Golo Ropong

lppm stkip santu paulus ruteng

Dewasa ini kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan hidup bisa dikatakan sangat kurang. Hal itu dapat dilihat dari keadaan dan tingkat kebersihan lingkungan hidup baik dalam keluarga, masyarakat dan juga dalam setiap individu yang amat minim. Salah satu bukti rendahnya kesadaran akan kebersihan adalah banyaknya sampah yang bertumpuk atau dibuang di sembarang tempat.

Identifikasi Penyebab Anak Putus Sekolah Di Desa Compang Dalo, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai

WhatsApp Image 2019-01-03 at 09.57.48

Putus sekolah telah menjadi suatu fenomena yang terjadi secara masif di Desa Compang Dalo beberapa tahun terakhir. Berdasarkan pendekatan dan observasi yang dilakukan oleh para mahasiswa STKIP Santu Paulus Ruteng selama melakukan kegiatan pendataan keluarga miskin dan KKN di wilayah itu diketahui bahwa faktor penyebab putus sekolah terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal, berasal dari anak itu sendiri yang tidak memiliki kemauan untuk sekolah karena tergiur dengan pekerjaan yang dapat menghasilkan uang. Faktor external yaitu lingkungan pendidikan dan lingkungan keluarga. Faktor lingkungan pendidikan berasal dari pendidik, yaitu munculnya rasa takut yang tinggi terhadap ancaman guru di luar sekolah dan juga system pengajaran oleh guru/pendidik yang terlalu keras. Fakor lingkungan keluarga berupa kurangnya kontrol dari orang tua terhadap pendidikan anak, sehingga mereka acuh tak acuh saat anak memutuskan keluar dari sekolah. Hal ini bertolak belakang dengan keadaan ekonomi keluarga yang menjamin keberlangsungan sekolah anak. Jadi penyebab putus sekolah di Desa Compang Dalo bukan karena keadaan ekonomi keluarga yang lemah, melainkan karena anak itu sendiri yang menginginkannya.